"Apakah kita akan bertemu lagi?" tanya Thalia seperti berbisik.
Suaranya berbaur dengan banyak bunyi. Ada harap yang tersembunyi.
***
Thalia, repoter majalah fashion dikirim ke Jepang untuk sebuah liputan. Sekaligus menjemput kembali masa lalunya yang ternyata kebetulan juga berada di Jepang.
Berhasilkah ia menyatukan yang dulu sempat retak?
Dan sebuah kecelakaan kecil mengubah perjalanan Thalia.
Adalah Tora, reporter majalah travelling yang kebetulan juga ada di Jepang, yang mempunyai andil dalam kecelakaan kecil Thalia.
Kecelakaan yang kemudian terpaksa mengikat mereka, dalam sebuah ikatan yang mereka berdua tak kehendaki, sebenarnya.
Terutama, karena Tora juga datang ke Jepang untuk mencari sebuah jawaban dari tanya yang selama ini menggumpal di hatinya.
Dari lintasan perjalanan singkat mereka, sejumput rasa perlahan tumbuh. Tak semudah yang mereka bayangkan, karena sisa-sisa masa lalu menguntit tepat di belakang mereka. Tak juga mudah, karena bukan hanya tak mampu terangkai oleh kata, tapi mereka pun tak mampu memahami apa yang terasa.
Mampukah dua manusia ini bangkit dari kepingan luka yang tersisa? Mampukah mereka menjawab riuhnya rasa mereka?
***
Rasa itu ada tanpa peringatan apa-apa.
Ia hanya mengetuk pintu, lalu kita bertemu.
Ah, tidak usah terburu-buru.
Kita sedang berusaha. Sebaik-baiknya.
Apakah kita akan bersama pada akhirnya?
Biar Tuhan saja yang menjawabnya.