[Review] Tokyo - Falling

Buku dengan cover yang sederhana dan tidak mencolok, justru memikat hati saya. Buku ini di mata saya terlihat dewasa dan teguh. Ya tentu saja, dengan bertaburannya novel-novel chiklit dengan cover beraneka warna yang tajam dan gambar yang meriah, buku ini justru mencolok karena kesederhanaannya.

Sejujurnya, saya belakangan agak ruwet dalam urusan pemilihan buku. Penulis-penulis baru yang bermunculan, membuat saya lebih berhati-hati dalam memilih sebuah buku. Saya tidak mau terjebak membeli buku yang terlalu ringan (baca : abege). Dan penulis buku ini : Sefryana Khairil, belum termasuk penulis yang saya kenal. Tapi toh tetap saya tergerak untuk mengambil buku ini. Selain karena covernya yang saya ceritakan di atas, juga karena judul bukunya : Tokyo. Alasan yang sangat personal untuk ini. Tapi selain itu, Tokyo ini adalah bagian dari Serial Setiap Tempat Punya Cerita, jadi saya pikir, pasti ada yang istimewa.

Dari sisi alur cerita, cukup sederhana. Tidak berbelit-belit. Jujur dalam menggambarkan setiap tokoh, dan tidak berusaha membuat pembaca menebak-nebak jalan cerita dengan menampilkan karakter misterius. Meski begitu, pembaca tergiur untuk terus membaca tiap halaman, karena detail yang menarik yang ditampilkan. Tak melulu mengenai para tokoh, namun penulis juga memberikan gambaran setting dan informasi mengenai Jepang. Menarik.

Kisah cinta yang digambarkan dalam buku ini juga bukan kisah cinta yang rumit. Kisah sederhana yang bisa terjadi pada kita semua. Kisah yang, jujur saja, kadang membuat saya sedikit terdiam. Tertohok. Potongan-potongan puisi sederhana ikut mempercantik kisah cinta di buku ini. Puisi pendek, yang mampu membuat pembacanya diam-diam berbisik dalam hati : gue bangeeeeettt.

Tak ada karakter dominan dalam buku ini selain 2 orang tokoh utamanya. Bagus. Setidaknya pembaca seperti saya tak diharuskan mengingat banyaknya tokoh dalam buku beserta perannya masing-masing. Karakter utama inipun tak sempurna. Manusia biasa yang tak hanya punya cinta, tapi juga naif dan bodoh dalam urusan cinta. Manusia biasa seperti kita yang bisa salah menterjemahkan perasaan sendiri. Sekali lagi, saya pun diam-diam berbisik : gue bangeeeeettt.

Buku ini memang bukan buku berat, buku ini cocok untuk menemani malam Minggu yang sepi, sambil minum kopi. Ringan untuk dibaca, tapi cukup menusuk di hati.